Kapas Mayat Pohon Randu



Mengambil setting di daerah perkampungan jawa yang masih dipenuhi dengan pepohonan yang besar dan rindang seperti pohon kapas atau pohon randu. Dengan jalan tanah yang belum beraspal, genre cerita horror ini akan jauh lebih mencekam dan menyeramkan karena setiap rumah penduduknya masih menggunakan lampu tempel untuk penerangan rumahnya jadi kampung itu masih terlihat lebih asli dan original serta sangat tradisional.

Cerita ini dimulai dari suasana duka dari rumah ibu Karsih dan pak Karso, dikarenakan anak semata wayangnya yang sedang hamil muda bernama “Sri Rahayu“ yang menikah dengan “Slamet“ buruh bangunan di kampungnya, tewas secara mengenaskan dan membikin geger seisi kampung itu dengan cara yang tidak wajar  yaitu: “Mati dengan Gantung Diri“ dikamar tiang-tiang rumahnya yang sudah mulai rapuh.

Rahayu sudah tidak tahan dengan himpitan ekonomi hidupnya, ditambah lagi, ia harus menghidupi kedua orang tuanya yang sudah mulai sakit-sakitan karena dimakan usia dan bekerja sebagai buruh tani harian pada sebuah pertanian tebu milik seorang petani tebu di kampungnya.

Suasana rumah pak Karso masih diselimuti rasa duka yang mendalam ditambah lagi terdengar sayup-sayup orang berbisik tentang kematian anaknya itu. Pembacaan ayat-ayat suci menyeruak menjadi satu dengan bau kemenyan dan parfum kematian yang menusuk hidung diantara tamu-tamu yang datang untuk melayat.

Mayat Rahayu sudah selesai dimandikan dan akan siap untuk si sholatkan, lalu di kubur ditempat pemakaman umum desa setempat yang tidak berpagar dan bertembok.

Pada saat semua keluarga sudah melihat wajah mayat Rahayu untuk terakhir kali dan siap untuk di kafankan tiba-tiba seekor kucing melintas tepat di wajah mayat Rahayu yang sudah tertutup kapas menjadi berantakan dan acak-acakan karena terbawa cakar kucing yang melintas tadi, sontak saja kepanikan melanda seisi rumah itu karena kapas yang sudah wangi itu berhamburan kemana-mana diantara para pelayat yang datang. Maka untuk pengganti kapas yang sudah tidak bisa dipakai lagi, kapas mayat penutup muka Rahayu diganti dengan kapas pohon randu yang memang lagi sedang banyak-banyaknya pada saat itu dan pohon randu itu memang ada persis didepan rumah pak Karso dan ibu Karsih yang di tanam oleh Rahayu pada saat masih kecil dulu.

Pemakaman mayat Rahayu yang mati dengan gantung diri dan sedang hamil muda berjalan dengan penuh haru dan lancar. Tetapi perbincangan warga kampungnya tidak pernah usai membicarakan tentang peristiwa sebelum pemakaman dan membicarakan tentang seseorang yang mati karena gantung diri maka arwahnya akan gentanyangan dan menjadi kuntilanak. Hal itulah yang membuat sedih Slamet, pak Karso dan bu Karsih tentang desas desus perbincangan tersebut.

Menjelang magrib, suasana malam itu makin mencekam karena pada malam itu adalah malam pertama satu hari kematian Sri Rahayu, beberapa warga pria dewasa sudah siap untuk mengadakan tahlilan dirumah pak Karso, sedangkan para ibu-ibu dan anak-anak menutup rapat-rapat pintu rumah mereka yang memang tidak berpagar dan hanya diterangi lampu tempel seadanya. Terlihat dengan jelas hantu Rahayu dengan baju putih menjuntai sedang mengayun-ayunkan kakinya dibatang pohon randu sedang mengamati beberapa orangtua yang sedang tahlilan dirumah orangtuanya. Ternyata dugaan dan asumsi warga sekampung pak Karso benar adanya, bahwa bila seseorang yang mati dengan cara gantung diri dan sedang hamil pula, maka arwahnya akan berubah menjadi sosok “ kuntilanak “ yang bisa mengganggu siapa saja dan bisa berubah wujud sesuai keinginannya pada malam hari, terutama pada malam kematiannya.

Bambang dan Dahlia sepasang pengantin baru yang baru pindah dari kampung sebelah tidak mengetahui tentang kematian Sri Rahayu. Dahlia yang sedang hamil muda tiba-tiba ngidam “ kacang rebus “ pada malam itu, karena Bambang mendengar sayup-sayup suara musik dangdutan berarti ada hajatan dikampung sebelah maka untuk mendapatkan sebungkus kacang rebus tidaklah sulit, biasanya kalau ada orang hajatan semua pedagang dikampung akan berkumpul menjadi satu untuk mengais rezeki.

Ternyata orang hajatan dan kacang rebus yang dicari Bambang untuk istrinya Dahlia tak kunjung ditemukan, padahal dengan jelas sekali pada saat berangkat dari rumahnya terdengar suara sayup-sayup suara musik dangdutan dikampung sebelah sedang berlangsung, sampai akhirnya motor yang dikendarai oleh Bambang tiba-tiba bannya bocor persis didepan area pemakaman umum tempat Rahayu dimakamkan yang tidak berpagar dan bertembok itu. Sambil mendorong motornya yang bannya bocor tiba-tiba Bambang dikejutkan dengan suara musik dangdut yang keluar dari radio kecil seorang pedagang ‘kacang rebus’ persis mayat Rahayu dimakamkan. Tanpa pikir panjang lagi, Bambang yang sudah putus asa dan lelah, akhirnya memborong semua sisa kacang rebus yang dijual oleh penjual tadi dengan di iringi sayup-sayup musik dangdut yang sama persis didengarnya pada saat berangkat dari rumah dan Bambang pun sempat menanyakan kepada pedagang kacang rebus tersebut dimana rumahnya dan si penjual kacang rebus menjawab bahwa rumahnya tidak jauh dan hanya beberapa langkah saja dari tempat dimana Bambang memborong semua sisa dagangan si penjual tadi .....

Bambang tidak menyadari, bahwa penjual kacang rebus itu adalah arwah Sri Rahayu yang tiba-tiba hilang setelah Bambang melanjutkan perjalanannya dengan mendorong motornya sampai tiba dirumahnya, tetapi didalam perjalanan hati Bambang agak bingung, karena kacang rebus yang tadinya berat didalam kantong kresek tiba-tiba menjadi ringan. Tapi Bambang tak peduli yang penting keinginan ngidam istrinya Dahlia pada malam itu bisa di eksekusi dengan baik.

Dahlia berteriak histeris, ketika membuka bungkusan kantong kresek yang diberikan oleh suaminya Bambang, bukanlah kacang rebus yang di inginkannya, tetapi “segumpal kapas” yang penuh dengan wewangian mayat yang menyeruak wanginya sampai Dahlia menjadi pingsan dibuatnya, yang histerisnya Dahlia sampai membangunkan tetangga disekitar rumahnya.

Kejadian kacang rebus berubah menjadi kapas, menjadi buah bibir dan perbincangan warga kampung setempat. Akhirnya Bambang dan Dahlia mengetahui kejadian yang terjadi dikampungnya tempat ia tinggal sekarang dari mulut orang tua   Sri Rahayu yaitu : pak Karso dan ibu Karsih tentang kematian anaknya bernama “Rahayu“.

Dengan kejadian itu warga kampung sekitar terutama ibu-ibu dan anak-anak di landa ketakutan yang mencekam dengan mengunci rapat-rapat rumah mereka sebelum magrib tiba, begitupun dengan para bapak-bapaknya mereka dilarang oleh para istrinya untuk keluar rumah selepas magrib tiba. Karena rasa takut mereka akan arwah Rahayu yang siap mengetuk rumah salah satu warganya sebelum naik dipersinggahannya yaitu : di ranting pohon randu depan rumah orang tuanya, karena arwah Rahayu bisa menjelma menjadi Slamet suaminya, bapak Karso dan ibu Karsih serta Bambang dan Dahlia yang tidak disadari oleh warga sekitarnya.



Ubai Rai.




Genre  : Drama, Horror

Players:    -Rahayu

                 -Slamet

                 -Ibu Karsih & Bapak Karso

                 -Bambang

                 -Dahlia

                 -and others.

0 komentar